Tantangan Globalisasi Untuk Indonesia Di Tengah Transisi Budaya

kehidupan menuntut manusia untuk berlaku serta lakukan tindakan pada dua pillihan yaitu pergantian atau stagnan. Pilihan pergantian sebab satu tuntutan yang mewajibkan seorang ikuti irama arus yang tengah berjalan meskipun sebetulnya pilihan ini begitu baik akan tetapi butuh diperhitungkan.

Sedang pilihan stagnan sebetulnya pilihan yang tambah lebih baik sebab bisa membendung dinamika perubahan lintas budaya yang diketahui dengan trans-kultural hingga tidak condong turut arus. Akan tetapi yang butuh peninjauan lagi bagaimana dengan tempat stagnan akan tetapi sama dengan arus pergantian yang tengah berkembang.

Ke-2 pilihan di atas tidak lepas dari arus globalisasi yang demikian mencekik dan berefek pada skema kehidupan manusia. Dalam teori sosiologi pendidikan Emile Durkheim, keberagaman bentuk kehidupan manusia dibuat proses dari hubungan sosial individu serta penduduk yang diketahui dengan arti interaksionisme simbolik. Mengenai jalinan individu serta penduduk dalam pengetahuan sosiologi dibagi dalam tiga ide salah satunya: organisme (perubahan sosial penduduk dipastikan hukum alam), kolektivisme (penduduk memengaruhi kebutuhan individu) serta individualisme (individu memengaruhi kebutuhan penduduk). Dalam (AsiaDHRAA Secretariat: 1998, 17), ke-3 ide itu yang alami dinamika di masa global.

Dengan dramastis, penduduk beberapa seluruh dunia tengah di transformasikan oleh globalisasai (George Ritzer, 2004: 587, makalahumum). Globalisasi mempunyai grand effect terjadinya pergantian sosial yang bisa menggerakkan seorang atau sekolompok orang atau satu negara yang sama-sama memerlukan dan menghubungkan. Faktanya sebab globalisasi dapat memengaruhi kehidupan manusia dalam beberapa bagian atau segi kehidupan (Martin Wolf, 2007:10).

Salah satunya aspek pemicu globalisasi tidak lepas dari perkembangan ilmu dan pengetahuan serta tehnologi. Selain aspek pemicu tentu saja ada efek yaitu memudahkan budaya asing untuk masuk ke pada suatu negara. Akan tetapi tidak semua budaya asing yang masuk ditafsirkan dengan efek negatif satu negara. Budaya asing yang masuk akan membawa efek positif bila satu negara dapat bertahan dengan landasan basic kehidupannya.

Sebab banyak negara berkembang yang terhegemoni oleh negara maju pentingnya dalam segi budaya yang dapat mempengaruhinya. Berikut masa yang dimaksud dengan trans-kultural. Bagaimana negara bertahan dengan identitasnya akan tetapi dapat berkembang, atau mungkin negara bertransformasi yang dikit demi sedikit menghilangkan identitasnya.

Masa trans-kultural di kerangka globalisasi terutamanya pada komune Islam Indonesia, jati diri jadi masalah yang makin kuat pada dinamika penduduk Islam. Potret terjadinya pergantian dalam sendi kehidupan sosial penduduk muslim dilatar belakangi oleh masa trans-kultural dalam kerangka global yang dipandang bias mengenai kebudayaan barat menjadi aktor proses dari hegemoni.

Banyak contoh yang bisa dilihat bersama dengan, salah satunya: pertama, melemahnya jati diri keislaman (liberal) seperti langkah jalinan lelaki serta wanita, langkah makan, langkah kenakan pakaian dalam kehidupan berbangsa serta bernegara. Ke-2, krisis jati diri seperti pedang bermata dua (radikal), di meneguhkan jati diri sosialnya akan tetapi di luar kontraproduktif buat eksistensi komune Islam sendiri. Contoh kongrtinya yaitu tindakan terorisme dengan stigma Islam agama anti globalisasi (Badrus Shaleh, 20008: 61).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *