Setiap Siswa Memiliki Gaya Belajar Masing-Masing

Pada hakekatnya, kecerdasan menempati tempat yang demikian terpenting dii dunia pendidikan, akan tetapi sering kecerdasan ini dimengerti dengan parsial oleh beberapa golongan pendidik. Pada era ke-20, kita sudah terlatih mengkaitkan kecerdasan tinggi dengan buku, golongan intelektual, serta akademik (Armstrong, 1999:2).

Gardner (1993) mendeskripsikan kecerdasan seperti berikut: a) potensi untuk mengakhiri satu permasalahan yang berlangsung dalam kehidupan riil; b) potensi untuk membuahkan permasalahan baru untuk dipecahkan; serta c) potensi untuk membuat suatu atau tawarkan satu service yang bernilai dalam budaya satu penduduk. Berdasar pada pengertian kecerdasan menurut Gardner itu, jadikan kita makin sadar, jika tiap-tiap individu ialah pintar, tidak ada individu yang bodoh. Pintar yang disebut bukan pintar di semua bagian, tetapi pintar di bidangnya semasing.

Dalam praktiknya di kehidupan riil, sebagian besar kegiatan yang dikerjakan individu membutuhkan gabungan dari beberapa kecerdasan. Contohnya, agar bisa jadi seseorang wartawan yang baik, seorang butuh mempunyai kecerdasan linguistik, matematik, serta intrapersonal yang tinggi.

Menjadi seseorang Arsitek, seorang butuh mempunyai kecerdasan visual-spasial, matematik, kinestetik, serta interpersonal yang tinggi. Bahkan juga agar bisa jadi seseorang guru yang sukses, pasti mesti bisa mengombinasikan semua type kecerdasan dalam multiple intellegences saat proses evaluasi berjalan. Perihal ini akan mempermudah siswa dalam terima info yang dikatakan oleh guru.

Munif Chatib (2009:69) dalam bukunya “Sekolahnya Manusia” menyontohkan bukti yang seringkali berlangsung di penduduk. “Setiap kali kita diminta memandang siapa yang lebih pintar: Bill Gates, J.K. Rowling, Oprah Winfrey, atau almarhum Munir, S.H.? Atau siapa yang sangat pintar dari beberapa tokoh serta ilmuwan-ilmuwan populer? Banyak yang kebingungan untuk menjawabnya”.

Style belajar seorang ialah langkah yang termudah satu info masuk ke otak orang itu. Berarti jika kita tahu cenderung kecerdasan seorang dari multiple intelligences-nya, jadi kita akan tahu style belajar orang itu. Berdasar pada riset yang dikerjakan oleh Gardner, nyatanya style belajar siswa tercermin dari cenderung kecerdasan yang dipunyai oleh siswa itu.

Oleh karenanya, semestinya tiap-tiap guru mempunyai data mengenai style belajar siswanya semasing. Lalu, tiap-tiap guru mesti sesuaikan gayanya dalam mengajar dengan style belajar siswanya yang didapati dari Multiple Intelligence Research (MIR). Seorang diriset dengan MIR, maka bisa dibaca cenderung kecerdasan serta style belajarnya, dari mulai taraf paling tinggi sampai paling rendah.

Hasil MIR ini adalah data yang begitu penting untuk didapati oleh guru serta siswanya. Tiap-tiap guru akan masuk ke dunia siswa hingga siswa terasa nyaman serta tidak bertemu dengan resiko kegagalan dalam proses belajar. Perihal ini menurut Bobbi DePorter diberi nama menjadi azas penting quantum learning, yakni masuk ke dunia siswa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *