Hikayat Tiga Pertapa Leo Tolstoy

DI waktu memprihatinkan keadaan kedengkian merundung persada Nusantara, saya ingat terhadap Leo Tolstoy.

Untuk saya, Leo Tolstoy tidak cuma seseorang mahasastrawan tetapi pula seseorang mahapemikir dan pengajar kasih-sayang. Satu diantara beberapa penganut ajaran kasih sayang Leo Tolstoy ialah Mahatma Gandhi.

Kasih Sayang

Menurut Tolstoy, basic ideologi perlawanan pada kejahatan ialah kasih sayang. Saat hidup Tolstoy keras mengkritik gereja jadi dipandang sebagai pendiri sekte beresiko sampai-sampai dijauhi dari gereja.

Di tempat tinggal jaman senjanya di daerah Tula, Yasnaya Polyana, Leo Tolstoy kerja jadi buruh tani. Dia turut bajak tanah serta memotong rumput, walaupun dia menyandang titel bangsawan serta kayaraya hasil dari penerbitan buku-bukunya seperti Perang Serta Damai, Anna Karenina, Wafatnya Ival Ilyich, Sonata Kreutzer, Haji Murad dan sebagainya .

Tolstoy miliki 13 orang anak serta kurang lebih 400 keturunan. Salah satunya cicitnya bernama Vladimir Tolstoy ialah penasehat kebudayaan Vladimir Putin.

Read More : hikayat

Tiga Pertapa

Mulai sejak jaman kanak-kanak, saya terkagum pada karya-karya tuliskan Leo Tolstoy . Satu diantara karya Leo Tolstoy paling membekas pada sanubari saya ialah Hikayat Tiga Pertapa.

Alkisah Uskup Peterburg dengar berita perihal tiga pertapa yg tersohor bijak bijak bertempat dalam suatu pulau terpencil. Sang uskup menyengaja berlayar ke pulau terpencil itu untuk menjumpai sang tiga pertapa.

Nyatanya sang tiga pertapa benar-benar tidak mengerti teknik berdoa yg pas serta benar menurut ketetapan gereja. Jadi sang uskup berbaik hati mengarahkan teknik berdoa yg pas serta benar sama dengan ketentuan gereja yg berlaku.

Sebab ke-3 pertapa telah lanjut umur jadi diperlukan waktu lumayan lama hingga beberapa bulan untuk sanggup mengingat doa yg di ajarkan oleh sang uskup.

Sesudah pada akhirnya dengan sulit payah ke-3 pertapa sukses mengingat doa yg di ajarkan sang uskups jadi sang uskup rasakan lega lalu akan memutuskan untuk kembali lagi Petersburg.

Lupa Teks Doa

Dari kapal yg tengah berlayar sang uskup melihat kembali lagi arah pulau dimana ia pernah sang tiga pertapa berdoa. Mendadak sang uskup terkaget dikarenakan menyaksikan ada tiga titik kecil bergerak semakin jadi membesar mendekati kapal yg ditumpanginya.

Sang uskup semakin terkaget sebab nyatanya sang tiga pertapa lari diatas air samudra untuk kejar kapal yg sang uskup sembari berteriak-teriak” Maaf, maaf, kami lupa teks doa yg di ajarkan Bapak Uskup ! ”

Sang uskup langsung bersujud sembari mengatakan Kalian bertiga tidak usah mengingat doa yg saya sampaikan terhadap kalian. Silahkan kalian berdoa melalui cara semasing sendiri! ”

Penulis dipengaruhi ajaran kasih-sayang Leo Tolstoy jadi membangun Sanggar Evaluasi Kemanusiaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *